Super User

Super User

Saturday, 15 November 2014 13:51

Membangun Kinerja Ekselen Secara Konseptual

Setiap tahun, sejak 2005 sampai saat ini IQA Foundation menjelenggarakan  acara pemberian penghargaan pada perusahaan  yang ikut dalam Indonesian Quality Award  . Tahun 2014 bulan November ini  adalah kali ke 10 IQA Foundation menyelenggarakan Award ini.

Di Amerika perusahaan yang score Baldridge nya tertinggi,  diberikan Award yang disampaikan langsung oleh Presiden Amerika dalam acara penganugerahan  Malcolm Baldridge National Quality Award. Karena itu Award ini juga sering disebut Presidential Award.  Prosesi awardingnya pun didahului oleh bendera Amerika yang dilakukan  oleh regu dari korps Marinir Amerika Serikat (US Marine Corps) . https://thumbp10-sg3.mail.yahoo.com/tn?sid=10133099526976946&mid=AFTFCmoAAA68VHLrcghBSGdb5mE&midoffset=2_0_0_1_1065326&partid=2&f=1938&fid=Inbox&m=ThumbnailService&w=3000&h=3000

Akankah ada perusahaan Indonesia yang lahir melalui IQA Award yang dilaksanakan oleh IQA Foundation akan menjadi perusahaan berkelas dunia yang sejajar dengan perusahaan di Amerika yang menerima Presidential Award?

     

Sebagai ilustrasi, Boeing Airspace penerima Presindential Award  tahun 2003, memperoleh  score Baldridge  856  (David Sponge presentasinya di Jakarta 2006) masuk dalam level Industrial Leader/ Benchmark Leader.

Hasil assesment IQA Foundation di IQA Award 2013 sudah ada 5 perusahaan (PT PN3 PT Krakatau Steel PT Pembangkit Jawa Bali PT Petrokimia Gresik  dan PT Astra Daihatsu Motor yang memperoleh score berkisar diangka 600 level Emerging Industrial Leader dan lebih dari 10 perusahaan BUMN yang score Baldrigenya sudah diatas 500 san atau dalam level Good Performance. Mereka tentunya berpotensial  mencapai score 800 atau  level Industry Leader. Artinya   mereka  berpotensial mencapai angka 800 seperti yang dicapai Boeing Airspace sehingga dapat disebut sebagai  Perusahaan Kelas Dunia..

Di Amerika MBNQA atau Malcolm Baldridge Quality Award dan pengembangannya dibawah suatu badan yang disebut Baldridge Performance Excellence Program (BPEP) yang tergabung dalam  NIST suatu badan dibawah Kementerian Perdagangan milik Pemeritah. Karena semenjak program MBNQA di gelar  banyak Perusahaan Amerika yang menjadi kuat besar dan ekselen menyumbang peningkatan kemakmuran dan ke dig dayaan bangsa Amerika di dunia.

Indinesia IQA Foundation berusaha mensosialisasikan tentang pentingnya membangun kinerja ekselen secara konseptual berdasarkan Baldridge Kriteria,  juga memberikan bantuan agar perusahaan dapat meng- "operasi"-kan konsep kinerja ekselen Baldridge ini. Karena semakin banyak dan semakin cepat perusahaan nasional yang bekinerja tinggi maka akan semakin cepat pula Ekonomi dan Daya Saing bangsa akan meningkat.

(Dibawah ini tulisan yang kami kopi dari blorige NIST untuk dijadikan referensi dan renungan dan alasan mengapa Perusahaan anda "harus" menerapkan Baldridge Kriteria).

What is the typical payback on the Baldrige investment?

There is nothing typical about the benefits of an investment in the Baldrige process. The process pays applicants back in many different ways. Organizations that have received the Malcolm Baldrige National Quality Award have seen

  • moves toward globalization
  • decreased time to market
  • an increase in new product sales as a percentage of total annual sales
  • increased workforce involvement, empowerment, and productivity
  • greater customer satisfaction
  • increased return on assets and return on equity
  • increased market share
  • greater opportunities for research and development
  • increased revenue
  • decreased cycle time
  • cost reductions
  • improved product reliability
  • improved health care outcomes
  • improved student learning outcomes

However, an organization does not have to receive the award to see these benefits; all applicants are winners through improved business processes and results.

Sebenarnya semua perusahaan baik yang baru pertama kali ikut dalam proses assesment IQA Award juga adalah "PEMENANG",  karena mereka telah memulai membangun sistem kinerja di perusahaan secara konseptual. Penulisan  Dokument Aplikasi adalah cara cepat memahami bagaimana Baldridge memperbaiki kinerja perusahan secara konseptual.-  "Cobalah,  ini "ajakan" yang sebenarnya ! dan ini bukan iklan tv !".

jakarta November 2014 fts

Dialah Hokosuja Hutabalian, PT ANTAM (Persero) Tbk, This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.  

 

Intisari

Dewasa ini, banyak Organisasi Profit dan Non Profit telah menerapkan pengukuran Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence (MBCfPE) dan sistem pengendalian internal antara lain: mutu, K3, laboratorium, dan lain-lain. Sistem Manajemen salah satunya Mutu (SMM) ISO 9001:2008 dan penerapan MBCfPE telah banyak diterapkan oleh beragam organisasi namun sulit menemukan kajian analisis kesesuaian antara klausal ISO 9001:2008 dengan kriteria MBCfPE antara lain edisi 2013-2014 sehingga menjadi referensi dalam perspektif kesisteman MBCfPE. Penelitian ini mencari  kesesuaian antara klausal ISO 9001:2008 dengan kriteria MBCfPE edisi 2013-2014 yakni menemukan hubungan kesamaan dan keselarasan diantara keduanya. Klausal ISO 9001:2008 yang diteliti dibatasi dari Klausal 4 sampai 8 diselaraskan dengan Kriteria MBCfPE.
 
Hasil analisis menggambarkan hubungan yang kuat antara klausal ISO 9001:2008 dengan kriteria MBCfPE. Klausal 4 bersesuaian kuat dengan Kategori 1, 2, dan 3 ditinjau dari dimensi proses dan Item 7.4, 7.1, dan 7.2 ditinjau dari dimensi hasil. Klausal 5 bersesuaian kuat dengan Kategori 1, 2, dan 3 ditinjau dari dimensi proses dan Item 7.4, 7.1, dan 7.3 ditinjau dari dimensi hasil. Klausal 6 bersesuaian kuat dengan Kategori 5, 1, dan 6 ditinjau dari dimensi proses dan Item 7.3, 7.1, dan 7.4 ditinjau dari dimensi hasil. Klausal 7 bersesuaian kuat dengan Kategori 6, 2, dan 4 ditinjau dari dimensi proses dan Item 7.1, 7.4, dan 7.2 ditinjau dari dimensi hasil. Klausal 8 bersesuaian kuat dengan Kategori 6, 4, dan 1 ditinjau dari dimensi proses dan Item 7.1, 7.4 dan 7.2 ditinjau dari dimensi hasil. Hasil penelitian dapat digunakan dalam pengendalian sistem manajemen khususnya persyaratan dokumentasi ISO 9001:2008  dan  integrasi (linkage) dalam penyusunan Dokumen Aplikasi MBCfPE dan atau Laporan KPKU berbasis kriteria MBCfPE

1. Pendahuluan

 

Dewasa ini, banyak organisasi profit dan non profit telah menerapkan pengukuran berdasarkan perspektif Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence (MBCfPE) dan implementasi sistem pengendalian internal meliputi mutu, K3, laboratorium, dan lain-lain. Sistem Manajemen salah satunya Mutu (SMM) ISO 9001:2008 dan penerapan MBCfPE telah banyak diterapkan oleh beragam organisasi namun sulit menemukan kajian analisis kesesuaian antara klausal ISO 9001:2008 dengan kriteria MBCfPE salah satunya edisi 2013-2014 sehingga menjadi referensi dalam perspektif kesisteman MBCfPE.

Tujuan penelitian adalah untuk menemukan kesesuaian antara klausal SMM ISO 9001:2008 dan kriteria MBCfPE edisi 2013-2014 sehingga dapat menjadi panduan bagi pemangku kepentingan untuk meningkatkan kompatibilitas dua standar tersebut.

2. Pelaksanaan

2.1 SMM ISO 9001:2008

Standar internasional ISO 9001:2008 menggunakan pendekatan proses pada saat pengembangan, penerapan, dan perbaikan efektivitas sistem manajemen mutu, maupun untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dengan memenuhi kebutuhan pelanggan. Keuntungan pendekatan proses yaitu adanya pengendalian yang terus menerus mengenai hubungan antara setiap proses dalam sistem, demikian juga kombinasi dan interaksi mereka (Suwandi, 2008).

Model sistem manajemen mutu berdasarkan pada proses terlihat pada gambar 1, menjelaskan hubungan proses yang ada pada klausal 4 – 8. Penjelasan ini menunjukkan bahwa pelanggan berperanan penting dalam menetapkan syarat. Pemantauan kepuasan pelanggan membutuhkan evaluasi informasi yang berkaitan dengan persepsi pelanggan, yaitu apakah organisasi telah memenuhi kebutuhan pelanggan  (Suwandi, 2008).

Gambar 1 Model sistem manajemen mutu berdasarkan pendekatan proses (Suwandi, 2008)

2.2 Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence (MBCfPE) Edisi 2013 - 2014

Kriteria Perusahaan Kinerja Ekselen adalah persyaratan kriteria berdasarkan MBCfPE 2013 – 2014 untuk organisasi profit atau bisnis. Setiap dua tahun sekali persyaratan-persyaratan kinerja Ekselen disesuaikan sesuai perkembangan persyaratan pelanggan, pasar, globalisasi, dan sebagainya.

Persyaratan kinerja Ekselen secara garis besar terdiri dari tujuh kategori yang diklasifikasi dalam dua kelompok kategori, yaitu kategori proses dan kategori hasil. Kelompok kategori proses terdiri dari: Kepemimpinan, Perencanaan Strategis, Fokus Pelanggan, Pengukuran, Analisa, dan Manajemen Pengetahuan, Fokus Tenaga Kerja, dan Fokus Operasi. Kelompok kategori hasil terdiri dari: Hasil Produk dan Proses, Hasil Fokus Pelanggan, Hasil Fokus Tenaga Kerja, Hasil Kepemimpinan dan Tata Kelola, Hasil Keuangan dan Pasar (Hutabalian, 2012). Kerangka kesisteman berdasarkan MBCfPE dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Kerangka kesisteman berdasarkan MBCfPE (Baldrige Excellence Performance Program, 2013)


2.3  Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dengan cara analisis kesesuaian antara klausal ISO 9001:2008 dengan kriteria MBCfPE edisi 2013-2014 yakni menemukan kesamaan antara semua pertanyaan klausal ISO 9001:2008 dan kriteria MBCfPE 2012-2013. Semua pertanyaan klausal ISO 9001:2008 yang memiliki kesamaan dengan kriteria MBCfPE diberi angka 1 dan yang tidak berhubungan diberi angka 0. Prosentase kesamaan dibanding jumlah pertanyaan menunjukkan tingkat kesamaan/ kesesuaian. Klausal ISO 9001:2008 dibatasi dari Klausal 4 sampai 8 diselaraskan dengan Kriteria MBCfPE. Tahapan penelitian ditunjukkan pada gambar 3. Metode penelitian adalah tacit knowledge dengan konsep belajar individu  siklus tunggal adopsi konsep Argyris dan Schon, 1974 (Tjakraatmadja J.H., dan Lantu, D.C., 2006).

Gambar 3 Tahapan penelitian

3. Analisis dan Pembahasan


3.1 Kesesuaian Klausal 4 ISO 9001:2008 dengan kriteria MBCfPE


Klausal 4 ISO 9001:2008 Sistem Manajemen Mutu terdiri dari dua bagian yakni 4.1 Syarat Umum dan 4.2 Persyaratan Dokumentasi. Kesesuaian Klausal 4 dengan kriteria MBCfPE dapat dilihat pada  gambar 4 dan gambar 5.

3.2 Kesesuaian Klausal 5 ISO 9001:2008 dengan MBCfPE

Klausal 5 ISO 9001:2008 Tanggung Jawab Manajemen terdiri dari enam bagian yakni 5.1 Komitmen Manajemen, 5.2 Fokus Pada Pelanggan, 5.3 Kebijakan Mutu, 5.4 Perencanaan, 5.5 Tanggung Jawab, Wewenang, dan Komunikasi, dan 5.6 Tinjauan Manajemen. Kesesuaian Klausal 5 dengan kriteria MBCfPE dapat dilihat pada  gambar 6 dan gambar 7.

3.3 Kesesuaian Klausal 6 ISO 9001:2008 dengan MBCfPE

Klausal 6 ISO 9001:2008 Manajemen Sumber Daya terdiri dari dua bagian yakni 6.1 Ketentuan Sumber Daya dan 6.2 Sumber Daya Manusia. Kesesuaian Klausal 6 dengan kriteria MBCfPE dapat dilihat pada  gambar 8 dan gambar 9.

3.4 Kesesuaian Klausal 7 ISO 9001:2008 dengan MBCfPE

Klausal 7 ISO 9001:2008 Realisasi Produk terdiri dari enam bagian yakni 7.1 Perencanaan realisasi produk, 7.2 Proses yang terkait dengan pelanggan, 7.3 Desain dan pengembangan, 7.4  Pembelian, 7.5 Syarat produksi dan jasa, dan 7.6 Pengendalian alat pemantau dan pengukur. Kesesuaian Klausal 7 dengan kriteria MBCfPE dapat dilihat pada  gambar 10 dan gambar 11.

3.5 Kesesuaian Klausal 8 ISO 9001:2008 dengan MBCfPE

Klausal 8 ISO 9001:2008 Pengukuran, analisa, dan perbaikanterdiri dari lima bagian yakni 8.1 Umum, 8.2 Pemantauan dan pengukuran, 8.3 Pengendalian produk tidak sesuai, 8.4 Analisa Data, dan 8.5 Perbaikan. Kesesuaian Klausal 8 dengan kriteria MBCfPE dapat dilihat pada  gambar 12 dan gambar 13.

Berdasarkan analisis hasil kesesuaian Klausal ISO 9001:2008 dengan kriteria MBCfPE dapat dilihat hubungan yang kuat antar klausal dengan kriteria MBCfPE yaitu dibatasi pada tiga tertinggi sebagai berikut :

a. Klausal 4 bersesuaian kuat dengan Kategori 1, 2, dan 3 ditinjau dari dimensi proses dan Item 7.4, 7.1, dan 7.2 ditinjau dari dimensi hasil.
b. Klausal 5 bersesuaian kuat dengan Kategori 1, 2, dan 3 ditinjau dari dimensi proses dan Item 7.4, 7.1, dan 7.3 ditinjau dari dimensi hasil.
c. Klausal 6 bersesuaian kuat dengan Kategori 5, 1, dan 6 ditinjau dari dimensi proses dan Item 7.3, 7.1, dan 7.4 ditinjau dari dimensi hasil.
d. Klausal 7 bersesuaian kuat dengan Kategori 6, 2, dan 4 ditinjau dari dimensi proses dan Item 7.1, 7.4, dan 7.2 ditinjau dari dimensi hasil.
e. Klausal 8 bersesuaian kuat dengan Kategori 6, 4, dan 1 ditinjau dari dimensi proses dan Item 7.1, 7.4 dan 7.2 ditinjau dari dimensi hasil.

Hasil analisis kesesuaian antara klausal ISO 9001:2008 dengan kriteria MBCfPE edisi 2013-2014 dapat digunakan dalam pengendalian sistem manajemen khususnya persyaratan dokumentasi  ISO 9001:2008 dan  integrasi (linkage) dalam penyusunan Dokumen Aplikasi MBCfPE dan atau Laporan KPKU berbasis kriteria MBCfPE.

Daftar Pustaka:

  • Baldrige Excellence Performance Program (2013):  Criteria for Performance Excellence 2013-2014, NIST and United States Department of Commerce
  • Hutabalian, D.H, (2012): Berkenalan dengan MBCfPE,   Malcolm Baldrige Criteria for Performance  Excellence, Bulletin Geomine no. 1, Mei 2012, PT Antam ( Pesero) Unit Geomin, Jakarta, 28-29 pp. Tidak dipublikasikan.
  • IQAF (2013): Kriteria Kinerja Ekselen 2013-2014 Organisasi Profit, Indonesian Quality Award Foundation
  • Suwandi, U. (2008): ISO 9001:2008, PT TUV NORD Indonesia
  • Tjakraatmadja, J.H.: Lantu, D.H. (2006). Knowledge Management dalam Konteks Organisasi Pembelajar
Friday, 17 October 2014 16:39

What we have learned from them

Untuk menjadi organisasi yang ekeselen  membutuhkan proses, tak ada jalan pintas. 10 tahun sudah IQAF mensosialisaikan metode perbaikan kinerja Malcolm Baldridge Kriteria  agar dikenal dan diimplementasikan pada organisasi profit dan non profit di Indonesia. Namun belum banyak  perusahaan di Indonesia yang mau mengimplementasikannya dengan satu dan lain alasan padahal  metode Baldridge    diakui oleh para best practice dan CEO perusahaan besar di Amerika Serikat sebagai metode  terbaik yang dapat memperbaiki kinerja organisasi menjadi excellen secara cepat, effisien dan "murah". Dan ini menjadi pekerjaan rumah IQA Foundation untuk mencari jalan bagaimana Baldridge Kriteria ini diimplementasikan di perusahaan Nasional agar terjadi percepatan peningkatan kinerja  dan semakin banyak perusahaan yang ekselen dengan demikian akan membantu meningkatkan daya saing ekonomi bangsa.

Namun dibalik kisah itu ada juga berita menggembirakan datang dari aplikan/ perusahaan yang konsisten menerapkan Baldridge Kriteria  di tiga tahun belakangan ini   mengungkapkan bahwa perbaikan kinerja menggunakan feedback report hasil assesment team Examiner IQAF sebagai pegangan ternyata sangat ampuh,  membuahkan  hasil-hasil yang begitu impresiif, murah, cepat dan konkrit.

Corporate values/ Budaya Perusahaan yang biasanya hanya tergantung didinding mulai mewarnai budaya kerja  individu individu, menjadikan  mereka sebagai high individual  performance work, yakni pekerja yang menghasilkan hasil kerja dengan Kualiti, Produktifiti, ber- Innovasi , selalu perform didalam  siklus pekerjaan yang tinggi. Bekerja bukan hanya sekedar menyelesaikan pekerjaan namun harus menghasilkan hasil yang lebih baik, lebih cepat dan lebih sempurna dan  ingin jadi bagian dari pertumbuhan dan kesuksesan organisasi.

Tujuan ikut  serta secara konsisten dalam IQA Award yang ter affiliasi dengan MBNQA NIST USA  adalah dengan petimbangan antara lain :

  • Menuntun perusahaan untuk terus melakukan perbaikan secara terus menerus berdasarkan metode, konsep dan design yang jelas.
  • Mengawal agar tidak keluar jalur dan mengejar pertumbuhan.
  • Agar tetap fokus untuk melakukan apa yang sudah direncanakan.
  • Mencegah cara-cara perbaikan kinerja yang coba-coba yang berpotensi kegagalan

 

Kami optimist, dengan  terus konsistent melakukan assesment yang dilaksanakan IQA Foundation melalui IQA Award  dan persistent menindak lanjuti feedback dan OFI OFI nya maka  menjadi perusahaan yang dapat bersaing ditingkat lokal regioanal dan Dunia tidak akan mustahil";  demikian sebagian testimoni dari aplikan yang kami terima. Tentu hal ini sangat  sangat memberikan semangat dan kepercayaan diri bahwa kami,  IQAF untuk terus berusaha agar lebih banyak lagi perusahaan di Indonesia menerapkana metode  yang sudah membuktikan keampuhannya di dunia.

"Mengapa kami harus melepaskan burung ditangan mengharap mendapat 5 burung yang masih bertengger ditiang  listrik" Mereka benar!  That what we should  learn from them.-

Welcome to the 10th of IQA Award November 2014.
 fts.

Thursday, 02 October 2014 11:59

Penyebab Kualitas Yang Buruk

Oleh : I.N.Winartha

pak winSaat ini  Pasar sudah menjadi sangat Customer Centris. Disatu sisi Kompetisi sudah  sangat ketat dan ekspektasi  para pelanggan sudah semakin meningkat. Disisi lainnya masih saja ada Perusahaan yang terus bekerja atau memproduksi produk dengan kualitas buruk (poor quality). Yang menjengkelkan didalam berbagai model manajemen kualitas, proses-proses pengelolaan Bisnis/Organisasi, ISSUE tentang KUALITAS BURUK masih ada disana. Mengapa hal ini seperti itu ?

Penyebab KUALITAS/KINERJA BURUK dikelompokkan dalam ENAM faktor utama yaitu :
 
1. AKTOR MANUSIA

a. Kurangnya motivasi/minat, rasa takut, stres
b. Kekurangan tenaga kerja
c. Kurangnya pelatihan/keterampilan.
d. Unqualifide personil
e. Orang mengambil jalan pintas
 
2. FAKTOR MESIN/PERANGKAT

a. Kurang kapabel
b. Kurang maintenance
c. Suku Cadang tidak cukup tersedia
d. Keausan (aus)
e. Pengaturan yang tidak tepat/kalibrasi
f. Teknologi yang sudah usang
 
3. FAKTOR MATERIAL/SUKU CADANG

a. Material/suku cadang kelasnya rendah
b. Materil/suku cadang yang tidak sesuai spesifikasi.
c. Penggunaan material yang bervariasi
 
4. FAKTOR MANAJEMEN

a. Lack of vision, mission, value system
b. Kesalahan mengidentifikasi dan memahami kebutuhan/persyaratan pelanggan
c. Perencanaan hanya jangka pendek
d. Perencanaan yang buruk yang tidak memadai
e. Indikator kinerja yang tidak tepat
f. Kurangnya supervisi / monitoring
g. Sikap terhadap perubahan
h. Kurangnya keterampilan memutuskan dan komunikasi
i. Kurannya pemahaman proses
j. Pengambilan keputusan tidak berdasarkan fakta dan data

5. FAKTOR METODE

a. Kurangnya/tidak ada prosedur/mekanisme kerja/approach yang sistematis.
b. Metode/mekanisme kerja tidak diikuti
c. Persyaratan yang bertentangan
d. Metode/mekanisme kerja tidak dikomunikasikan
e. Persyaratan yang terlalu kaku atau terlalu longgar.
 
6.FAKTOR LINGKUNGAN

a. Kelembaban
b. Suhu
c. Pencahayaan
d. Argonomis

Referensi : Cost of Quality – JURAN INSTITUTE Hand Book dan PSB

Tuesday, 05 August 2014 13:12

Why ISO 9000 not enough

Good  Corporation adalah perusahaan yang telah berhasil  memproduksi produk nya dengan kualitas tinggi melalui cara pengelolaan perusahaan yang baik. Banyak perusahaan yang masuk dalam katagori Good Corporation  dengan mengaplikasuikan ISO 9000.

Di Indonesia sudah ada puluhan   Perusahaan yang mengimplementasikan ISO 9000 lebih dari 10 tahun, namun saat ini merasa masih belum cukup puas dengan pencapaian itu. Mereka  menghendaki  menjadi lebih bagus lagi,  tidak hanya bagus di tingkat provinsi,  nasional, namun bisa unggul ditingkat regional dan bisa masuk  dalam tingkat   Dunia atau World Class seperti banyak perusahaan Jepang Korea Selatan Singapore dan lain-lain yang go International dan unggul dalam pengusaan product, market dan financial.

Dari hasil workshop  oleh IQA Foundation  tahun 2012 maka disimpulkan mengaplikasikan ISO 9000 tidak cukup kuat untuk mengangkat kinerja organisasi /perusahaan menjadi perusahaan dengan level kinerja Great atau Excellence. Karena ISO 9000 hanya menempati  di satu (1) manjemen frame atau katagori yakni di katagori (nomer) 6 sedangkan   Malcolm Baldridge yang mempunyai 7 manajemen frame / atau 7 katagori.

Hal lain  ISO 9000 tidak memasuki unsur "perusahaan pembanding" sebagai dasar untuk mengetahui dan  mengukur tingkat keunggulan, sedangkan dalam  Malcolm Baldridge (MB) faktor pembanding  terhadap perusahaan  "yang lebih unggul"adalah hal yang mutlak.

 

"Although programs, such as activity based costing, management by objective, reengineringproject management, Balanced Score Cards, Six Sygma, Lean Enterprise and ISO 9000 certification , to name a few, have produced some good results, unless  leaders focus on the entire integrated Management System, performance is not optimized". Mark L Blazey (insight to performance excellence 2013-2014  "understanding the Integrated Management System and the Baldridge Criteria.

"The purpose, content, and focus of the Baldrige Criteria for Performance Excellence and ISO 9001 registration are very different. The Baldrige Criteria provide an integrated, results-oriented framework for designing, implementing, and assessing all operations of an organization. In addition, the Baldrige Criteria include a strong customer, workforce, and future focus. ISO 9001 is a standard used in implementing a compliance and improvement system and assessing conformity in organization-selected operations. Its central purpose is to provide a common basis for an independent supplier qualification system. Overall, ISO registration covers a small fraction of the requirements in the Baldrige Criteria",Blorige NIST ,Baldridge FAQs.


Perbedaan lain  yang cukup prinsip adalah  dalam cara pelaksanaan pengukuran dan sistem penilaian dimana  ISO berpedoman pada "complience review", yakni  mutu mutu yang ada dalam  proses kerja dan sistem kerja dijaminkan untuk dipenuhi demi untuk mendapatkan sertifikat ISO yang diapply oleh organisasi yang bersangkutan. 

Sedangkan dalam MB pelaksanaan pengukuran kualitas proses proses dan hasil dilaksanakan di ke 7 manajemen frame/katagori dengan semangat continous developmental assesment yang  di pandu dan di intergerasikan dengan  Scoring Guideline yang rinci dan detail sehingga dapat mengetahui tingkat keekselenan dalam angka satuan yang absolut sehingga  jelas dan konkrit.
 

Selain Score , Assesment MB juga menghasilkan catatan atau pernyataan penting atau OFI yang ditemui disetiap atau ke 7  manajemen frame yang dapat dijadikan pegangan dalam mendesign atau membuat perencanaan perbaikan kinerj perusahaan kedepan secara konseptual  kinerja perusahaan kedepan. Dengan demikian perusahaan akan terhindar dari resiko kegagalan dan in effisiensi waktu dan cost .

Inilah kelebihan MB dalam menghantarkan perusahaan atau organisasi menjadi perusahaan yang Ekselen/Great yang dibutuhkan Perusahaan dalam memasuki abad 21 abad borderless yang penuh dengan persaingan tajam.

Malcolm Baldridge Criteria for Performance Excellence adalah tool yang telah terbukti dapat meningkatkan kinerja Perusahaan / Organisasi di Amerika pada era awal 1990 sehingga terhindar dari keruntuhan ekonomi dan daya saing bangsa akibat kalah bersaing dengan produk-produk Jepang dan Eropah Barat waktu itu. Kini, Jepang  sejak awal tahun 2000 negara  yang  menggunakan metode Baldridge sebagai basis penilaian kinerja dalam Japan Quality Award.

Berikut adalah  refensi yang  membedakan perusahaan " good dan  great"   yang dicuplik dari  tulisan  J Latham /J Vinyard dalam buku Inside Baldridge "good versus great". Tidak ada penjelasan rinci atau contoh nama perusahaan  dalam buku ini, namun untuk mempermudah dalam  membedakan maka "kita" artikan saja    "good" adalah organisasi yang memiliki score Baldridge maksimal 500 dan "great" corporation dengan  score Baldridge diatas 600

 

"Good Corporation versus Great Corporation"


Good Corporation  :
fokus pada penciptaan produk atau jasa dengan kualitas tinggi.
Great Corporation  : fokus pada penciptaan produk dan Jasa yang dibutuhkan atau dikehendaki oleh pelanggan dan bersedia membayar untuk itu.

Good Corporation  : memproduksi produk atau jasa sesuai standard  yang ditentukan.
Great Corporation  : secara terus menerus belajar untuk meningkatkan perbaikan.

Good Corporation  : merespon jadwal yang dikehendaki/ ditentukan  oleh pelanggan
Great Corporation  : secara terus menerus berusaha untuk mengantisipasi dan merubah arah untuk memenuhi perubahaan yang diperlukan oleh pelanggan atau pasar.

Good Corporation  : fokus pada menjalankan bisnisnya.
Great Corporation  : fokus menjalankan bisnisnya dan siap mengubah bisnisnya.

Good Coporation   : pegawainya mengikuti/ mematuhi prosedur.
Great Corporation  :  pegawainya tidak hanya sekedar mengikuti prosedur tapi juga mereka diarahkan untuk menemui cara atau inovasi- inovasi baru untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Good  Corporation : memiliki orang orang pintar yang mengelola pekerjaan dengan intiusi.
Great Corporation  : memiliki orang- orang pintar yang mengelola pekerjaan dengan intiusi dan  mempunyai semangat dan daya dalam menyelasikan pekerjaan yang  bekerja berdasarkan fakta-fakta.

Good Corporation  : beroperasi memenuhi dengan hukum dan peraturan, melindungi masyarakat dan lingkungan-lingkungannya.
Great Corporation  : lebih dari sekedar pemenuhan hukum dan peraturan dan melindungi masyarakat dan lingkungan tapi lebih kepada pencapain dan fokus pada sebagai warga  perusahaan yang baik daalam lingkungannya.

Good Corporation  : fokus pada yang hal-hal sudah digariskan.
Great Corporation  : fokus pada penciptaan nilai- nilai untuk kepentingan para stakeholders.

Good Corporation  : fokus pada fungsi- fungsi yang excellence.
Great Corporation  : fokus pada sistem.

Di Indonesia sudah hampir 20 perusahaan BUMN yang masuk dalam level GOOD Performance (476-575) dan 3 BUMN dan satu Swasta yg sudah masuk level Emerging Industrial Leader (576-675)versi IQA Foundation.

Jakarta Agustus 2014.fts  :
sumber : artikel Blogrige NIST ; IQAF workshop Baldridge versus ISO 9000 ; Blog Concern Performance Excellence Insight Baldridge (J Latham and J Vinyard (2008) dan Seminar Baldridge BEC  2005 Hilton Hotel.

PT Dompet Dhuafa Corpora (DD Corpora) memiliki kegiatan dibidang pendidikan dengan tujuan untuk membantu masyarakat marjinal mendapatkan akses dan kualitas pendidikan yang baik dan berkomitmen memberikan pendidikan bebas biaya dengan standar mutu unggulan. Dengan memperoleh pendidikan  berkualitas diharapkan mereka mampu memutus rantai kemiskinan.

Untuk merealisasikan tercapainya tujuan tersebut Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa diberi tugas untuk  mengelola berbagai macam kegiatan program pendidikan, baik program pendidikan formal maupun non formal. Pengelolaan berbagai macam program pendidikan sudah barang tentu  memerlukan sumberdaya manusia yang profesional dan pengorganisasian  yang baik serta dapat diukur kinerjanya sehingga dapat ditingkatkan kinerjanya secara terus menerus.

Untuk meningkatkan kinerja dan daya saingnya  Divisi Pendidikan telah menjalin kerja sama  dengan Indonesian Quality Award Foundation (IQAF) berupa penerapan Malcolm Baldrige Education Criteria for Performance Excellence (MBECfPE) . Kerja sama ini dimulai dengan mengadakan pelatihan Pendalaman  Kriteria Baldrige dan Penulisan Dokumen Aplikasi kepada para pimpinan Divisi Pendidikan dan  beberapa pimpinan PT Dompet Dhuafa untuk  menjadi Champion team yang akan mengawal penerapan kriteria Baldrige supaya dilakukan secara konsisten.  Untuk selanjutnya  IQAF akan melakukan asesmen agar Divisi Pendidikan dapat memperbaiki organisasinya  berdasarkan Opportunity For Improvement yang tertuang dalam feedback report hasil assesmen.
 
Pelatihan dilakukan  tanggal 3 sd 5 Juni 2014 dengan instruktur  Ir.Priyadi selaku koordinator bidang Pendidikan IQAF  dan Ir Arief B Kamirin.
  
Dengan penerapan Kriteria Baldrige diharapkan kinerja dan daya saing Divisi Pendidikan  Dompet Dhuafa meningkat dan lebih dipercaya oleh para Donatur untuk melaksanakan amanah yang mulia yaitu  memberikan pendidikan bebas biaya dengan standar mutu unggulan untuk memutus rantai kemiskinan kaum marjinal.

Dalam rangka mensosialisasikan kriteria Baldrige th 2013-2014, IQA Foundation telah mengadakan Publik training Pendalaman Interpretasi Kriteria Mlcolm Baldrige 2014 Angkatan I. Training di selenggarakan di Hotel Golden Flower, Jl Afrika 15-17, Bandung pada tgl 3 sd 5 Maret 2014.

Peserta pelatihan terdiri dari 13 wakil Perusahaan baik Perusahaan Swasta, BUMN dan Anak perusahaan sbb:: Bakrie Sumatra Plantation Tbk, Chandra Asri Petrochemical Tbk, Citra Panji Manunggal, Indo Pusa Berau, Jalan Lingkar Luar Jakarta, Jasa Marga Persero Tbk, Krakatau Engineering, Krakatau Industrial Estate, Perhutani Divisi regional Jabar& Banten, Perkebunan Nusantara III, Rekayasa Industri, Perkebunan Nusantara IV, Styrindo Mono Indonesia .

Dengan sangat beragamnya peserta training ini maka terjadi pertukaran informasi dan pembelajaran bersama dalam diskusi penyelesaian studi kasus yang sangat bermanfaat dalam penerapan kriteria Kinerja Malcolm Baldrige ditempat tugas masing masing. Pelatihan ini juga diikuti oleh peserta dari PTPN III yang telah mencapai band score “Emerging industri leader“ dengan tujuan untuk mempelajari perubahan Kriteria th 2013-2014 dibandingkan Kriteria th 2012 sehingga perusahaan dapat terus mengikuti perkembangan kriteria sesuai dengan perubahan persaingan global. Bertindak selaku instruktur adalah tenaga expert IQA Foundation yaitu Tumpal Siregar, Sutarman dan Priyadi yang merupakan tenaga praktisi yang telah berpengalaman di perusahaan besar.  

Perusahaan yang kosisten melakukan pengukuran dengan cara mengimplementasikan Malcolm Baldridge Criteria for Performance Excellence, mengakui dan merasakan betapa ampuhnya nya metode ini dalam membangun memperbaiki dan mendorong kinerja perusahaan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. "Tidak ada keraguan bahwa MBCfPE ini adalah sebagai alat praktek manajemen global yang effektif untuk meningkatkan kinerja perusahaan"; bagi mereka!.

Aplikasi MBCfPE disatu organisasi belum tentu sama outputnya, karena criteria in akan masuk pada roses proses yang ada diorganisasi tersebut dimana proses proses dari satu organisasi tidak atau belum tentu sama adanya.

Contohnya, di Astra Daihatsu Motor menerapkan metode MBCfPE telah membuka horison ADM pada masalah kualiti manajemen dan spirit mbcfpe akan selalu mengilhami secara sistimaticali meningkatkan managementnya, sistem dan operasinya menuju perusahaan yang ekselen. Metode ini juga membuat ADM mampu membuat / menciptakan fomula sbagai dasar dalam menyelaraskan sistem-sistem yang ada resources yang ada di dalam perusahaan dan dengan demikian dapat membuat pendekatan yang komprehensif utnuk mencapai performance yang ekselen.

"Indonesian Quality Award (IQA) has opened up our horizon on quality management and its spirit will always inspire our organization to systimatically improve our management, system and operation toward an excellent performance enterprise. Malcolm Baldridge will enable us to formulate the foundation in aligning the existing systems and resources within our organization and as such to make comprehensive approach for achieving excellence performance". Sudirman MR.

Secara umum perusahaan yang menggunakan MBCfPE terlihat dan terasa terkelola dan dikelola oleh manajemen yang proffesional, terbuka dan sangat transparan. Suasana kerja yang beraura positif seolah berlomba dan terpacu untuk meningkatkan kapasitas masing-masing agar dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik cepat dan effisien.

Kriteria MBCfPE ini bekerja secara sistimatis dan otomatis dalam mengawal dan memonitor semua performance proses-proses yang ada diperusahaan secara real time, sehingga membuat kerja manajemen lebih mudah dan lebih effisien dan banyak menghemat waktu. Dengan demikian para pimpinan top perusahaan mempunyai banyak kesempatan untuk memikirkan hal- hal yang lebih strategis bagi perkembangan perusahaan.

Walau MBCfPE telah banyak terbuktikan sebagai alat ampuh meningkatkan kinerja perusahaan secara effektif dan efisien, ternyata "menjual" MBCfPE ini ternyata tidaklah gampang. Berbagai alasan mengapa perusahaan belum mau mengimplementasikan metode ini. Entah karena tidak percaya atau belum perlu dan lain-lain alasan. Sungguh sangat disayangkan !

Namun perusahaan yang sudah merasakan manfaatnya dan mereka justru mengikuti assesment menggunakan MBCfPE yang dilaksanakan oleh IQA Foundation lebih bersemangat dan fokus karena dengan assesment ini perbaikan dan peningkatan kinerja perusahaan bisa dilaksanakan dengan perencanaan yang matang dan terhindar dari cara- cara perbaikan yang dilakukan secara intiusi atau menduga duga!.-

Sumber: Dari beberapa sumber.

Friday, 23 November 2012 00:00

Emerging Industry Leader

INDONESIAN QUALITY AWARD VIII 2012

PT Perkebunan Nusantara III PT Astra Daihatsu Motor PT Petrokimia Gresik PT Pembangkitan Jawa Bali 

Pengukuran Kinerja Ekselen pada IQA Award menggunakan metode Malcolm Baldridge Criteria for Performance Excellence. Hasil-nya berupa Score dan Feedback Report, Score digunakan untuk mengetahui posisi perusahaan di dunia industrinya, sedangkan Feedback Report digunakan sebagai rujukan perbaikan kinerja ke depan.

Feedback Report hasil dari assesmen team eximiner IQAF sangat kredible dan dijadikan rujukan perbaikan perusahaan kedepan. testimoni: PT Astra Daihatsu Motor, PT Pembangkit Jawa Bali,PT Perkebunan Nusantara 3, PT Krakatau Steel.

keterangan photo : 1. PT Angkasa Pura I. 2 PT Geo Dipa Energy 3. Rumah Sakit Tarakan 4.PT Jalan Tol Lingkar Luar. 5. Rumah Sakit Krakatau Steel. 6. PT Aneka Tambang 7. Melani Petria. 8. Paduan Suara PT JASINDO. 9. Panitia

Wednesday, 12 December 2012 00:00

Komitment Menuju Performa Prima

UNSOED Gelar Malcom Baldrige Education In House Training

World Class Civic University yang telah dicanangkan UNSOED hanya dapat terwujud dengan kerja keras, terarah, dan kontinu. Salah satunya adalah dengan kriteria kinerja yang terukur dan berdaya saing. Untuk itu, Senin (10/12) UNSOED selenggarakan In House Training Pendalaman Interpretasi Malcolm Baldgride Education Criteria for Performance Excellence.

Acara yang menghadirkan jajaran pimpinan universitas maupun fakultas ini dibuka oleh Pembantu Rektor IV UNSOED, Ir. Budi Rustomo, M.Rur.Sc.,Ph.D. Sebagi instruktur dalam kegiatan ini adalah Tumpal Siregar, MBA dan Ir. Suratman, MAP dari Indonesian Quality Award Foundation. Acara ini dibagi menjadi dua yaitu executive awareness untuk jajaran pimpinan UNSOED dan yang kedua Training untuk University Champion Team yang terdiri dari 40 orang peserta yang dilaksanakan hingga Tanggal 14 Desember 2012. Demikian disampaikan Ketua Panitia, Dr. Suprayogi

Malcolm Baldrige kriteria untuk kinerja ekselen adalah ukuran-ukuran (kriteria) yang digunakan untuk menilai kinerja suatu lembaga atau organisasi kerja berdasarkan “Malcolm Baldrigr Criteria for Performence Exellence” yang meliputi aspek kepemimpinan, perencanaan strategis, fokus pelanggan, pengukuran, analisa dan manajemen pengetahuan, fokus tenaga kerja, fokus operasi, dan hasil-hasil. Kriteria ini sangat relevan diterapkan dalam bidang pendidikan sehingga Ditjen Dikti Kemendikbud telah melaksanakan sosialisasi metode ini.

sumber: unsoed.ac.id

Page 5 of 6
 

Kontak

Sekretariat IQA Foundation
Jl. Radio IV. No.5, Keramat Pela, Kebayoran Baru
Jakarta Selatan - 12130
Tel: (6221) 7264135, 726 4280,